Surat Cinta dari Dedaunan

1 Komentar

Ingin kukayuh sepedaku hingga ke seberang samudera

Tapi tak sampai

Kedua roda dan jeruji yang berkarat

hanya sampai di depan hatimu

tempat dimana aku menitipkan rindu

Barangkali aku telah kehabisan kata-kata

atau mungkin sekadar bosan

merangkai huruf-huruf yang tak bisa bicara

Adakah engkau tahu yang kurasakan ketika hujan?

Airnya jatuh menggenangi jantungku

Adakah engkau tahu ketika lahir kemarau?

saat dedaunan meranggas, parau

Teriknya surya membuat hatiku dahaga

Aku ingin berteduh

di tritisan hatimu saja

Barangkali sewaktu-waktu kau akan membukakan pintu

karena kamu tahu, aku di luar

Sendirian

11 Juni 2009

Surat Cinta dari Semesta

Tinggalkan Komentar

Ingin rasanya kupahat semesta agar serupa wajahmu

tapi tak mampu

sebab Tuhan mencipta batu dan pepohonan

tak seindah dirimu

Ingin rasanya kugambar wajahmu

pada setiap tembok kota dan dedaunan yang basah

agar matahari selalu melepas senyum

setelah semalaman meninggalkanmu dalam kegelapan

Ingin rasanya kutikam hatiku

agar aku bisa berhenti merindukanmu

tapi sayangnya hatiku tak mau mati

sebelum memahami sebuah arti cinta darimu

21 Juni 2009

Guguran awan

Tinggalkan Komentar

Alam mengapung
menerpa langit-langit yang patah
Aku pun mengikut
pada senyummu
kearah mata angin yang hilang batas
ke semenanjung cinta
ke tepian hati

Di guguran awan sana
ada bulir-bulir cinta
Namun, kita tak pernah mengerti
mengapa ia menjadi gerimis
salju
atau pelangi
Mungkin, sebab itu pula
kamu takĀ  pernah letih
melukiskannya lewat ujung kuaas

Selembar kangen

Tinggalkan Komentar

Mengapa selalu laut
Tempat rintik-rintik hujan berpulang
dan melepas kerinduan
Menemui pasir, bebatuan ataupun karang

Mengingatkan aku pada sesuatu
bahwa aku haru kembali pada kekasih
Yang dulu
Yang tak pernah marah meski kucaci
Yang tak pernah dendam meski kumaki
Yang setia
Yang akan sedih, jika kututup
rapat dalam buku

Penyair cinta

Tinggalkan Komentar

Mendetak di dada
memanahkan cinta
Ditali, dibui pada belenggu sunyi
seolah aku tak bisa memahami
bodoh
Otakku dipasung pada dinding-dinding kokoh

Syahdan, aku mendadak jadi pujangga gila
mendadak aku jadi puisi
Manusia tergila-gila manusia demi mendapat cinta
Manusia melelehkan dirinya agar jadi puisi

Nah, semoga kita tak terkapar dalam mimpi
Agar tak mati dalam sunyi
yang tertatih antara hasrat dan cinta sejati

Berpisah

3 Komentar

Engkau pergi …

dan aku pulang dengan hati yang hujan
Aku menunggumu
hingga aku berdiri sendiri
Di cinta sekolah rendah

Dikau pergi . . .
aku sendiri- pulang kembali
Bagai patriotisme dan romantisme yang telah mati
Ah. . . . .!
Semoga cintaku tak pernah abadi

Aku dan Sebuah Sajak E

Tinggalkan Komentar

Jikalau kulihat sepotong senja di timur mentari

sebagaimana semesta mengghaibkan sebuah elegi
Maka terkuaklah selarik hujan
yang dihadiahkan Tuhan
di tengah lembah, di hilang arah

Sajak, rabalah warna jingga
seperti bianglala antara bunga asoka
bilamana senyummu menusuk telaga hati
Sang pertapa yang bosan bersemedi

Sajak, akulah teratai kelana
yang bertahun-tahun tak berani mengembara
hingga segurat cinta mengambang di udara

Sajak, bagaimana harus ku katakan padamu
bagaimana mesti ku bilang padamu
bahwa aku pengecut!
Atau mungkin penakut

Sajak, aku jatuh cinta pada cintamu
aku jatuh hati pada hatimu
aku jatuh,
Akh . . .! Teramat sakit

Sudah lebih dari seribu kali
Setan menari sorak sorai
Menghembus nafsu dan dosa-dosa
sampai doa menjadi sia-sia

Dhuh! Gusti Allah Yang Maha . . .
seberapa besar dosa hamba?

Keraguan

Tinggalkan Komentar

Kurajut ungkapan hati
Dari detik paling hening
tentang mimpi dan tinta yang mengering

Adakah setangkai melati
lebih indah dari rambutmu yang tergerai?

perempuan,
ceritakanlah sebuah doa
sajak cinta yang harus lapuk dan temaram
seperti lagu dan raga

Kita adalah pengemis surga,
terus berjumpasekadar takdir atau pilihan
pada perjalanan dengan diam

Haruskah aku merasa duka
bahkan ragu,
karena pualam malam semakin menggodamu?

Buat Jejak Terindah

Tinggalkan Komentar

“Aku tak berani menatap matanya
matamu, dinda”

Ketika kerikil tajam membatu
air dingin, beku

Ilalang bergoyang karena derai wajahmu
bintang berguguran melihat senyumanmu

Matamu terlalu cerah untuk melihat hitam
Bibirmu begitu indah buat mencumbu malam

Akulah malam terapung
diantara tapak kaki yang masih basah
Inilah bekas luka terkurung
dari desah diatas tanah

Ini hidup mesti habis
Kikis!
biar jadi berarti!

Inilah perjalanan panjang
yang suatu hari buat dikenang
Inilah langkah terpanjang

yang hilang

“dan aku tak berani menatap matanya
matamu, dinda”

SAJAK PATAH

Tinggalkan Komentar

Ingin ku buang cintaku di lautan
namun betapa sombongnya samudera
menampik kenangan
menepuk karang di dadanya

Haruskah aku percaya
pada cinta yang mengambang di udara?
Berenang
menyelam ke dasar luka yang terbentang jurang

betapa bodohnya aku, betapa bodohnya kau
betapa bodohnya cinta
betapa bodohnya kelenaan yang membara

Ingin kulempar cintaku di padang pasir
pada heningnya gurun semesta
pada butir-butir pasir yang mendesir
pembawa luka ke angkasa raya

Mestinya ku tak peduli
pada cinta yang lahir pada sebuah khuldi
O, betapa heningnya aku, betapa heningnya kau
betapa heningnya cinta
betapa heningnya qiam
yang dengan terbata-bata ia menapak pada sebuah jalan

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.