Buat: Deta
Seekor duma, berlari
membelalak rerumputan kering
Sementara kita tak pernah lelah memburu
dengan senapan dan peluru
cinta yang terasing
Seekor kupu-kupu mengepakkan angin layu
Tanganmu merengkuh
“aku cinta padanya” ,katamu
Namun sayapnya patah di tangan kita
Serbuk warnanya pudar ditelan udara
Sebatang gaharu, rupanya bosan sudah
memayungi tanah
Ia menumbangkan tubuhnya untuk manusia
Ia menumpahkan getahnya untuk manusia
Ia menghembuskan cintanya untuk manusia
Selembar maple
Jatuh diwajah kita yang terus menua
Barangkali aku, kamu
telah salah mengartikan cinta
Karena kita terlalu bodoh untuk
menemukan batas antara awal dan akhir
Komentar Terakhir