Legam zaman

Tinggalkan Komentar

Kugali puisi
Kugali pada sepetak tanah basah
Kugali begitu dalam hingga
memuncratkan lumpur Lapindo
dan tak kutemukan puisi

Namun tak perlu tergesa
dengan cangkul yang terayun
lewat  tangan yang mengalun
dengan linggis yang mencongkel batu cadas
lewat pena yang mengorek-orek kertas
Kugali puisi pada ladang-ladang kering
sebelum tinta dan keringat mengering
Aha! Kutemukan puisi sedalam 12 jari
Lalu kurawat ia

Kini puisiku sudah tumbuh gedhe
Tapi hidupnya jadi seperti lonte
Yang sekadar dibaca lalu dicampakkan

Dhuh, akhirnya harus kugali hatiku untuknya
Kugali dengan hati-hati seperti para arkeolog mencari jejak purba
Dan kutemukan bongkahan hati untuknya
Agar ia berhenti dicampakkan
Agar ia tak seperti lonte
Agar ia menjadi sajak
Semoga

Januari 2009

Mewarnai Mimpi

Tinggalkan Komentar

Tidurlah tidurlah
mentari yang lelah
menapaki bumi bertelanjang kaki
Pahamilah doa dan segenggam cinta
tentang
Mengapa di bumi selalu berkobar api
padahal Tuhan telah memberi kita cahaya

Tidurlah, tidur
dalam gelap, gamang
memaknai mimpi yang mahsyur dalam puisi
menuruti sang waktu yang berderap, berdetak
Dan bila esok hari langit tak biru lagi
adakah engkau bermain dengan sunyi?

aku lagi bobok

Melangkah III

Tinggalkan Komentar

teruntuk Mitratama 05-06

Apabila umur telah dinganga kubur
Ingatkah kita pada gebrak kaki
yang dahulu menyatu di hati
pada barisan sepatah-patah
menyanyikan himne dengan tengadah

Kita adalah selarik ombak
yang memintal singgasana tepat berpijak
dengan untaian ragu dan securah angan
Juga sebersit sajak, tentang harapan dan kemuliaan

Kebersamaan antara kita teramat sederhana
Hingga menyisakan seloroh bagi ulat dalam kepompong waktu senja

Kenang-kenanglah pusaran hari
dimana semangat bergemuruh di setiap kesunyian
Kenang-kenanglah putaran bumi
higga sepi jadi teman yang terpendam

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.