Kugali puisi
Kugali pada sepetak tanah basah
Kugali begitu dalam hingga
memuncratkan lumpur Lapindo
dan tak kutemukan puisi
Namun tak perlu tergesa
dengan cangkul yang terayun
lewat tangan yang mengalun
dengan linggis yang mencongkel batu cadas
lewat pena yang mengorek-orek kertas
Kugali puisi pada ladang-ladang kering
sebelum tinta dan keringat mengering
Aha! Kutemukan puisi sedalam 12 jari
Lalu kurawat ia
Kini puisiku sudah tumbuh gedhe
Tapi hidupnya jadi seperti lonte
Yang sekadar dibaca lalu dicampakkan
Dhuh, akhirnya harus kugali hatiku untuknya
Kugali dengan hati-hati seperti para arkeolog mencari jejak purba
Dan kutemukan bongkahan hati untuknya
Agar ia berhenti dicampakkan
Agar ia tak seperti lonte
Agar ia menjadi sajak
Semoga
Januari 2009


Komentar Terakhir