Obral

Tinggalkan Komentar

Waktu itu kunikahi puisi
Baru pada malam pertama
ku kawini ia
Jutaan sel jantan biar menjadi tinta
dan terlahir sebagai huruf-huruf
kata-kata
serta sajak

Setelah beranak pinak
Aku bisa mengobralnya dengan diskon 99%
ke koran-koran
Majalah
ataupun pasar loak

Ya, puisi seperti baju baru saja
yang dipakai terus dibuang

Mencari diri

Tinggalkan Komentar

Kucari wajahku sendiri
dibalik cermin
Kugali cukup dalam, semakin dalam
begitu dalam hingga kutemukan sisa-sisa kaca retak

Kucari isi kepalaku sendiri
Kucari dengan begitu mantap
di sekolah-sekolah, di kampus-kampus
di pasar loak
Disana hanya kutemukan teori-teori loakan
buku-buku loakan

Kucari tubuhku, tanganku, kakiku
Kali ini kutemukan diatas rerumputan
kering disebuah tempat sunyi
dimana banyak orang melewatinya tanpa peduli
Namun, tangan dan  kakiku tak ada jejaknya
sementara tubuhku tak ada bayangannya
Dhuh! Dimana aku mesti mencari?
Aku coba mengingat
kapan terakhir kali aku meninggalkan bayangan.

Kuraba isi tubuhku
tulang-tulangnnya masih lengkap
Kuraba satu persatu
jantung, paru-paru, lambung, pankreas
semua masih lengkap
tapi ada satu yang kosong
Hati, ya, hati
Dimanakah hatiku?
Adakah engkau telah mencurinya?
Apakah tercecer di rahim ibuku waktu aku dilahirkan?
Atau mungkin dicopet orang waktu di pasar loak?

Lalu kuraba lebih dalam lagi
ternyata jiwaku tinggal sebelah
dimanakah yang sebelah lagi?
Adakah Tuhan memisahkannya seperti Adam dan Hawa dulu?

Kutanyakan pada banyak manusia
kata mereka jiwaku yang sebelah telah dibawa lari cinta

Cinta!? Ya, cinta
Cinta yang lebih bulat dari bola kasti
Cinta yang begitu bulat hingga tak mungkin berlain sisi
Cinta yang memiliki cahaya
Cinta yang lahir di surga
Ya Tuhanku,
Terakhir kali cintaku terambat pada-Mu

Oktober 2008

C.U

Tinggalkan Komentar

“lagi apa brow!” ungkap seorang penyair gila pada sobatnya
Barangkali jika sama-sama gila kita tak perlu saling menggilai

“aku bosan dengan puisi
Kenapa puisi harus punya arti
Kenapa puisi dibilang banci
Kenapa puisi ini anu
Kenapa puisi
Kenapa?
Coba”
Ia tak sepenuhnya benci puisi
Ia tak sepenuhnya suka puisi
Ia benar-benar tak sepenuhnya
Maka jangan diambil hati

“nyante aja coy
Puisi cuma ungkapan hati
Puisi cuma kata-kata cinta dari
birunya langit dan orangenya matahari
tapi jangan lo cuma-cumakan
juga jangan lo tawar kesana kemari
toh nanti ia akan melacurkan diri kalo udah tak laku lagi.
Lo jangan underestimate dulu dab!
Puisi itu macho kayak puisinya Willy”
Jawabnya panjang lebar

“ya wislah
Tak coba ngepasin dulu
ntar kalo cocok tak bayar”
ya memang puisi memaknai artinya sendiri
meminum mabuknya sendiri
menganukan anunya sendiri
seperti cinta

februari 2008

MANUSIA TUPAI

Tinggalkan Komentar


Seekor manusia tupai
melompat dari pohon ke pohon
berjingkrak dari gedung ke gedung
menari riang di taman safari
Mereka sering menggelar kenduri
di pepohonan gaharu juga cendana
Bahkan di gedung DPR
sehingga acara tersebut menjadi panutan rakyat
Dua ekor manusia tupai
berkembangbiak di kota-kota
beranak pinak sampai ke pelosok
seolah tidak pakai alat KB
Empat ekor manusia tupai
Tak pernah puas menggerogoti kelapa
Sampai  kering dan jatuh
Gabug

Delapan ekor manusia tupai
petentengan pakai dasi
berkacak pinggang bagai mafia
Banyak ekor manusia tupai
kini mati satu
ditembak pemburu

Seorang Ibu

Tinggalkan Komentar

seorang ibu, begitu menyayangi anaknya
menyusui anaknya
menyuapi anaknya, cukup lama
hingga ketika anaknya rapi dan berdasi
ia sudah terbiasa menerima suap

seorang ibu, begitu mengasihi anaknya
selalu memberikan yang terbaik bagi anaknya
memberikan susu impor terbaik
memberikan baby sitter terbaik
memberikan apapun yang terbaik

seorang ibu, begitu mencintai anaknya
ia tak mau anaknya menderita
ia tak rela jika anaknya mendapat dosa dunia
ia tak rela jika anaknya terseret neraka
hingga ketika anaknya lahir
ia mengirimkannya ke surga
kembali pada Tuhan

bu,
kemana hutchi akan mencari
Adakah seekor lebah mencari,
menelusuri arti diri seperti sangkuriang-sangkuriang lain?

ballada kafillah jalanan

Tinggalkan Komentar

Mencari makan di perempatanKafilah muda melangkah terengah-engah

Nyonya anggota dewan jadi susah
Dalam sedan hasil sumpah jabatan

Kafilah berpakaian ala gelandangan
Kurus dekil kayak setan

Nyonya penuh emas gemerlapan
Tubuhnya bengkak pipinya tembam

Kafilah terbakar panas mentari
Keringat mengucur membanjiri wajah

Nyonya sibuk merias diri
menunggu lampu yang masih merah

Kafilah minta recehan
-Nyonya memberinya makian

Kafilah agak memaksa
-Nyonya meludahinya

Kafilah membalas caci
-Nyonya panggil polisi

Kafilah terus berlari
-Polisi dapat rejeki

Kafilah tertabrak truk
-Nyonya malah mengutuk

Kafilah mati
_Polisi cuma Saksi?

BASA BASI

Tinggalkan Komentar

img_0353”Makan Bung!”

”Ah tidak, terimakasih.”

”Ayolah, anggap saja rumah sendiri.”

”Tidak, aku masih kenyang.”

”Bagaimana kalau ngopi saja?’

”Bolehlah.”

”Tapi maaf airnya belum matang.”

”Tidak apa-apa aku masih lama.”

”Tapi maaf juga, minyak tanahnya habis.”

”Ah sudahlah! Aku kesini menunggu aparat untuk menyita rumah ini karena utangmu pada bank sudah terlalu banyak dan tak pernah kau bayar.”

”Adhuh!?…”

sepasang kata-kata

Tinggalkan Komentar

sinta n adi

Sepasang mata sepasang hati

Sepasang telinga sepasang kaki

Sepasang lengan sepasang lobang hidung

Sepasang tangan sepasang otak linglung

Sepasang luka sepasang derita

Sepasang manis sepasang canda

Sepasang ritmis sepasang tawa

Sepasang mata sepasang hati

Sepasang hidup sepasang mati

Sepasang sehat sepasang sakit

Sepasang lapang sepasang sempit

Sepasang muda sepasang tua

Sepasang kaya sepasang gila

Sepasang mata sepasang hati

Sepasang dara sepasang merpati

Sepasang cintaku padamu

Maaf cuma sepasang

Karena cinta tak dapat ditulis

Dengan sepasang kertas dan tinta

Maaf cuma sepasang

Karena cinta tak dapat dilukis

Lewat sepasang sajak dan puisi

Sepasang mata sepasang hati

Sepasang kata-kata sepasang sepi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.