Malam ini kami mesti memebesarkan nyali yang menciut karena menaiki jalan berkelok dan ekstrem, menaiki mesin berknalpot yang bau gosong. Mungkin tak begitu ekstrem bagi sebagian orang diantara kami, atau mungkin hanya aku saja yang menciut nyalinya. Tapi menurutku ini bisa dimaklumi, karena baru kedua kalinya aku menanjaki jalan securam ini. Barangkali jika suatu saat harus melewati jalan yang sama aku takkan kaget. Tetapi yang tak terduga adalah malam terasa membeku, tulang-tulang terasa kaku. Pohon-pohon bersetongkah seolah-olah mengutuk kami dengan mantra seperti suara angina.
Kami bersepuluh adalah alumni SMA 2 Banguntapan dari angkatan tua sampai dengan yang baru lulus. Sementara aku sudah lulus tahun lalu.
Jalan-jalan yang kami lewati masih agak asing bagiku apalagi ditengah malam yang gelap. Tetapi kegelapan  ini akan terbayar dipuncak nanti.
Selain dingin yang cukup nggregesi masih ada yang menarik dari perbukitan ini yaitu gadis-gadisnya. Gadis aduhai yang cukup menggoda iman para pemua yang sedang berpuasa. Walaupun yang ku kenal baru Carolyna dan Ira adk kelasku tapi itu sudah cukup kuanggap sample dari gadis-gadis ditempat ini.
Menjelang puncak, terciumlah aroma klasik yang agak asing bagiku, rupanya itu hanya dedaunan kayu putih yang baru dipanen.
Lewat jalan yang terjal kami bawa motor kami sampai ke puncak . Sungguh suatu pemandangan malam yang luar biasa. Sebuah pemandangan yang masih mempesona bagi temanku yang pernah ketempat ini dan melihatnya. Pemandangan di tempat  ini betul-betul menggetarkan hati. Alangkah Maha Besar Allah, Sang Maha Pencipta yang menciptakan para pencipta.
Sebuah pemandanga karya seni manusia, kumpulan cahaya itu seperti kunang-kunang. Inilah lampu-lampu kota yang membentang di depan hidung kami daribarat hingga timur. Saat itu aku baru tahu bahwa lampu-lampu di Jogja berwarna orange classic, Bantul berwarna putih dan warna kuning untuk daerahSolo serta bandara Adisucipto yang terang membelalak.
Di sampingku ada Arif, malam yang mengutuk membuat kami terpaksa tidur bertelungkup terpal. Yng paling kuingat dari dia adalah ketika ia tertatih-tatih saat kami refreshing di Kalikuning. Ia mengalami kecelakaan saat kami berangkat kesana.
Akhirnya pagi mulai mengusik malam. Pada sebuah subuh yang khusyu’ kami menuj masjid. Disana hanya ada sedikit air dan bercampur lumpur pula . Pelajaran yang diberikan oleh mas Agus adalah -bahwa hidup harus berusaha-. Ya, kami telah berusaha menimba air walaupun kami terlambat sholat subuh.
Aku dan Azis mesti pulang terlebih dahulu meninggalkan teman-teman yang lain.
Banyak keperluan yang mesti diselesaikan.
Tak jauh setelah kami meninggalkan mereka, kami harus mengisi bahan baker untuk motor. Jika dilihat dari sepinya jalan dan jauhnya tempat ini dari SPBU, kira-kira harga bensin di sini bissa mendekati Rp.10.000,-/liter dari harga standar eceran Rp.6.500,-
Didalam rumah yang sekaligus berfungsi sebagai warung tersebut ada seorang bocah yang menunggu sambil menonton kartun di Minggu pagi yang dingin begini. Kulihat sorot mata yang cerah dari bocah itu. Juga kulitnya yang muda, semua menyelimuti. Dari gerak bibirnya kami tahu bahwa harga bensin eceran disini sesuai standar. Dan ternyata kejujuran anak-anak bangsa masih ada hanya mungkin terpendam bersama sepinya jalan dan dedaunan berbisik disini.