Mendekap Cahaya

2 Komentar

Untuk adik Lolo
…………………..

Berdetak waktu mengitari sang surya
Mari kita bermain menjaring cahaya
Seperti hari-hari ketika sunyi menapaki kalbu
Bangunkanlah aku di dalam senyummu

Berdetaklah waktu yang menjaga doa
Berlarilah sobat kecilku, mencerca ragu
Mengejar mimpi sang cinta

Jikalau hatimu adalah rindu
Dikala lemahmu adalah resahku
Akan ku nyanyikan untaian nada
Tentang cinta dalam semesta

Bila hujan turun membasahi wajahmu di dalam gamang
Ijinkanlah ku mendekapmu menciumi dukamu
Dan bila nanti kau terhenti dalam sunyi yang bertaluh
Percayalah, kita berjodoh dengan waktu

……………….
Desember 2009

Surat Cinta dari Dedaunan

1 Komentar

Ingin kukayuh sepedaku hingga ke seberang samudera

Tapi tak sampai

Kedua roda dan jeruji yang berkarat

hanya sampai di depan hatimu

tempat dimana aku menitipkan rindu

Barangkali aku telah kehabisan kata-kata

atau mungkin sekadar bosan

merangkai huruf-huruf yang tak bisa bicara

Adakah engkau tahu yang kurasakan ketika hujan?

Airnya jatuh menggenangi jantungku

Adakah engkau tahu ketika lahir kemarau?

saat dedaunan meranggas, parau

Teriknya surya membuat hatiku dahaga

Aku ingin berteduh

di tritisan hatimu saja

Barangkali sewaktu-waktu kau akan membukakan pintu

karena kamu tahu, aku di luar

Sendirian

11 Juni 2009

Surat Cinta dari Semesta

Tinggalkan komentar

Ingin rasanya kupahat semesta agar serupa wajahmu

tapi tak mampu

sebab Tuhan mencipta batu dan pepohonan

tak seindah dirimu

Ingin rasanya kugambar wajahmu

pada setiap tembok kota dan dedaunan yang basah

agar matahari selalu melepas senyum

setelah semalaman meninggalkanmu dalam kegelapan

Ingin rasanya kutikam hatiku

agar aku bisa berhenti merindukanmu

tapi sayangnya hatiku tak mau mati

sebelum memahami sebuah arti cinta darimu

21 Juni 2009

Sebuah Jarak Diantara Genggaman

Tinggalkan komentar

Buat: Racmad Mulyadi

Aku ingin menangkap capung kurus itu

Tapi tak mampu

Sebab aku mencintainya

Seperti dalam ruang dimana hanya ada kita

Tak ada yang kalah dalam permainan ini

Dan kuantar capung itu ke sawah

menuju bebatang padi yang damai

4 April 2009

‘semua butuh ngobrol’

Sepanjang Lilin Menyala

2 Komentar

Tibalah kita, ditempatmu

Aku akan singgah semalam saja

di sebuah terminal Magelang

tempat orang menunggu

sejenak berlalu sebatas mata memandang jalan lengang

Terus terang aku bahagia sepanjang lilin menyala

Tahukah kau, kita berdiri di garis yang berbeda.

Mari kita memancing, mengail ikan-ikan lele yang berenang pada keruhnya air bergeming. Di anak kali Progo atau selokan mataram tempat orang memandikan kerbau serta kegelisahan. Tapi jangan di kali Krasak, disana ada ribuan kehendak.

Namun malam semakin menengadah. Kita mesti istirahat karena lelah setelah pengukuhan MT semalam, setelah permainan basket waktu pagi, try out STAN serta perjalanan jauh dari Bantul ditengah teriknya matahari.

Dan kau tak perlu tahu betapa ku ragu

Sepanjang malam bersamamu di kamar kumuh dan beku

Terus terang aku bahagia sepanjang lilin menyala

Namun subuh harus membangunkan kita

Terimakasih atas keramahan sobat dan keluargamu

Dan aku harus kembali

Sekadar mandi lalu menghabiskan waktu

Bermain play station di tempat teman kita dulu

O, aku memang malu untuk mengatakan rindu

………………………………………………..

Lagi-lagi kita harus berkecipak pada air yang sama

Aku pasir kau debu

Aku rumput kau ilalang

Adakah lilin terus menyala

Dikala kita ragu dan menghilang?

Jawa Tengah, Maret 2006

Garis Tepi Sebuah Catatan

Tinggalkan komentar

Pagi begini, rumput ilalang masih saja kaku berdiri

Tak lagi terlontar dalam pikiran,

pertandingan sepakbola liga champions yang baru usai di televisi

Namun, masih teras betul aroma bambu

dari surau sederhana yang berdiri buat satu alasan

– bahwa bulan ini penuh rahmat –

Dan kulihat lagi

pertarungan kokok-kokok ayam dan dingin yang memeluk

lalu diakhirinya dengan cahaya merah di ufuk timur

Akhirnya kita terpaksa harus ngerti

Bahwa kita tak pernah tahu apa yang akan ditulis

di baris terakhir sebuah catatan

Kegagalan

Tinggalkan komentar

karya: nn

gagal cinta

karena cita-cita mulia

gagal cita-cita

karena cinta hina

Bermain

Tinggalkan komentar

bermain air

basah

bermain api

terbakar

bermain cinta

jatuh

Seteguk hujan

Tinggalkan komentar

Mungkin sudah semestinya kita merenung
Sinambi menunggu hujan reda
Tentang ironi yang selalu disindirkannya
Bahwa
Betapa egoisnya kita
Menapaki jejak-jejak tritisan
Dan melupakan pepadian gabug yang usang dimakan zaman

Memang hujan
selalu membawa suka, selalu membawa luka

Obral

Tinggalkan komentar

Waktu itu kunikahi puisi
Baru pada malam pertama
ku kawini ia
Jutaan sel jantan biar menjadi tinta
dan terlahir sebagai huruf-huruf
kata-kata
serta sajak

Setelah beranak pinak
Aku bisa mengobralnya dengan diskon 99%
ke koran-koran
Majalah
ataupun pasar loak

Ya, puisi seperti baju baru saja
yang dipakai terus dibuang

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.