DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
Surat Cinta dari Dedaunan
Ingin kukayuh sepedaku hingga ke seberang samudera
Tapi tak sampai
Kedua roda dan jeruji yang berkarat
hanya sampai di depan hatimu
tempat dimana aku menitipkan rindu
Barangkali aku telah kehabisan kata-kata
atau mungkin sekadar bosan
merangkai huruf-huruf yang tak bisa bicara
Adakah engkau tahu yang kurasakan ketika hujan?
Airnya jatuh menggenangi jantungku
Adakah engkau tahu ketika lahir kemarau?
saat dedaunan meranggas, parau
Teriknya surya membuat hatiku dahaga
Aku ingin berteduh
di tritisan hatimu saja
Barangkali sewaktu-waktu kau akan membukakan pintu
karena kamu tahu, aku di luar
Sendirian
11 Juni 2009
DIarsipkan di bawah: Sajak Cinta | Leave a Comment »
Surat Cinta dari Semesta
Ingin rasanya kupahat semesta agar serupa wajahmu
tapi tak mampu
sebab Tuhan mencipta batu dan pepohonan
tak seindah dirimu
Ingin rasanya kugambar wajahmu
pada setiap tembok kota dan dedaunan yang basah
agar matahari selalu melepas senyum
setelah semalaman meninggalkanmu dalam kegelapan
Ingin rasanya kutikam hatiku
agar aku bisa berhenti merindukanmu
tapi sayangnya hatiku tak mau mati
sebelum memahami sebuah arti cinta darimu
21 Juni 2009
DIarsipkan di bawah: Sajak Cinta | Leave a Comment »
Sebuah Jarak Diantara Genggaman
Buat: Racmad Mulyadi
Aku ingin menangkap capung kurus itu
Tapi tak mampu
Sebab aku mencintainya
Seperti dalam ruang dimana hanya ada kita
Tak ada yang kalah dalam permainan ini
Dan kuantar capung itu ke sawah
menuju bebatang padi yang damai
4 April 2009
‘semua butuh ngobrol’
DIarsipkan di bawah: Sajak Abu-abu | Leave a Comment »
Sepanjang Lilin Menyala
Tibalah kita, ditempatmu
Aku akan singgah semalam saja
di sebuah terminal Magelang
tempat orang menunggu
sejenak berlalu sebatas mata memandang jalan lengang
Terus terang aku bahagia sepanjang lilin menyala
Tahukah kau, kita berdiri di garis yang berbeda.
Mari kita memancing, mengail ikan-ikan lele yang berenang pada keruhnya air bergeming. Di anak kali Progo atau selokan mataram tempat orang memandikan kerbau serta kegelisahan. Tapi jangan di kali Krasak, disana ada ribuan kehendak.
Namun malam semakin menengadah. Kita mesti istirahat karena lelah setelah pengukuhan MT semalam, setelah permainan basket waktu pagi, try out STAN serta perjalanan jauh dari Bantul ditengah teriknya matahari.
Dan kau tak perlu tahu betapa ku ragu
Sepanjang malam bersamamu di kamar kumuh dan beku
Terus terang aku bahagia sepanjang lilin menyala
Namun subuh harus membangunkan kita
Terimakasih atas keramahan sobat dan keluargamu
Dan aku harus kembali
Sekadar mandi lalu menghabiskan waktu
Bermain play station di tempat teman kita dulu
O, aku memang malu untuk mengatakan rindu
………………………………………………..
Lagi-lagi kita harus berkecipak pada air yang sama
Aku pasir kau debu
Aku rumput kau ilalang
Adakah lilin terus menyala
Dikala kita ragu dan menghilang?
Jawa Tengah, Maret 2006
DIarsipkan di bawah: Sajak 50 persen | 2 Komentar »
Garis Tepi Sebuah Catatan
Pagi begini, rumput ilalang masih saja kaku berdiri
Tak lagi terlontar dalam pikiran,
pertandingan sepakbola liga champions yang baru usai di televisi
Namun, masih teras betul aroma bambu
dari surau sederhana yang berdiri buat satu alasan
– bahwa bulan ini penuh rahmat –
Dan kulihat lagi
pertarungan kokok-kokok ayam dan dingin yang memeluk
lalu diakhirinya dengan cahaya merah di ufuk timur
Akhirnya kita terpaksa harus ngerti
Bahwa kita tak pernah tahu apa yang akan ditulis
di baris terakhir sebuah catatan
DIarsipkan di bawah: Sajak 50 persen | Leave a Comment »
Kegagalan
karya: nn
gagal cinta
karena cita-cita mulia
gagal cita-cita
karena cinta hina
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
Bermain
bermain air
basah
bermain api
terbakar
bermain cinta
jatuh
DIarsipkan di bawah: Uncategorized | Leave a Comment »
Seteguk hujan
Mungkin sudah semestinya kita merenung
Sinambi menunggu hujan reda
Tentang ironi yang selalu disindirkannya
Bahwa
Betapa egoisnya kita
Menapaki jejak-jejak tritisan
Dan melupakan pepadian gabug yang usang dimakan zaman
Memang hujan
selalu membawa suka, selalu membawa luka
DIarsipkan di bawah: Sajak Biru Laut | Leave a Comment »
Obral
Waktu itu kunikahi puisi
Baru pada malam pertama
ku kawini ia
Jutaan sel jantan biar menjadi tinta
dan terlahir sebagai huruf-huruf
kata-kata
serta sajak
Setelah beranak pinak
Aku bisa mengobralnya dengan diskon 99%
ke koran-koran
Majalah
ataupun pasar loak
Ya, puisi seperti baju baru saja
yang dipakai terus dibuang
DIarsipkan di bawah: Sajak Amburadul | Leave a Comment »